
Jurnal NYCNews | Renny Van Gobel
Penguatan ekonomi keluarga berbasis potensi wilayah serta pengelolaan sampah terintegrasi menjadi fokus utama dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) RKPD Kecamatan Bontoala Tahun 2027. Hal tersebut disampaikan Camat Bontoala, Andi Ahmad Muhajir Arif, saat membuka kegiatan Musrenbang yang digelar di Hotel Grand Tulip Makassar, Rabu (22/1/2026).
Dalam sambutannya, Andi Ahmad Muhajir menegaskan bahwa setiap kelurahan di Kecamatan Bontoala memiliki karakteristik dan potensi yang berbeda, sehingga memerlukan pendekatan pembangunan yang spesifik dan berkelanjutan.
“Kami sedang merumuskan penguatan keterampilan masyarakat yang disesuaikan dengan potensi masing-masing kelurahan, karena setiap wilayah memiliki karakter dan peluang yang berbeda,” ujarnya.
Menurut Muhajir, program penguatan ekonomi ini akan dijadikan sebagai proyek percontohan (pilot project) yang dapat diterapkan secara bertahap di seluruh kelurahan di Kecamatan Bontoala.
“Ini menjadi pekerjaan rumah bagi kelurahan dan akan kami jadikan pilot project agar dapat mulai diterapkan sejak tahun ini,” jelasnya.
Ia mencontohkan pemanfaatan ruang sempit di kawasan permukiman padat penduduk melalui konsep urban farming, seperti budidaya jamur dan maggot yang dinilai memiliki nilai ekonomi sekaligus ramah lingkungan.
“Meski berada di wilayah padat, ruang-ruang sempit tetap bisa dimanfaatkan, misalnya untuk budidaya jamur atau maggot,” katanya.
Namun demikian, Muhajir menyoroti masih banyak lahan kosong dan lorong di wilayah Bontoala yang belum dimanfaatkan secara optimal dan justru menjadi titik penumpukan sampah.
“Sangat disayangkan jika lahan-lahan tersebut tidak dimanfaatkan dan malah menjadi tempat penumpukan sampah, sehingga lingkungan menjadi tidak tertata,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menyebut persoalan sampah saat ini menjadi isu paling mendesak di Kecamatan Bontoala. Oleh karena itu, diperlukan sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi, mulai dari pemilahan hingga pemanfaatannya.
“Kondisi Makassar saat ini memang sedang fokus pada pengelolaan sampah terintegrasi, mulai dari pemilahan di sumber hingga pemanfaatannya,” jelas Muhajir.
Ia mengungkapkan, salah satu program yang telah berjalan adalah budidaya maggot di Pasar Kalimbut dengan memanfaatkan limbah organik pasar yang cukup melimpah.
“Kami sudah mengembangkan budidaya maggot di Pasar Kalimbut karena limbah organik di sana sangat potensial untuk diolah,” ungkapnya.
Selain itu, Kecamatan Bontoala juga terus mendorong pengembangan biopori, bank sampah, serta perencanaan pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R).
“Kami mendorong RT dan RW untuk menyiapkan sistem pemilahan sampah, pembuatan biopori, dan apabila tersedia lahan, bisa dimanfaatkan sebagai TPS 3R,” tambahnya.
Saat ini, Kecamatan Bontoala telah memiliki 14 titik biopori yang dijadikan sebagai percontohan.
“Sudah ada 14 titik biopori dan ini kami jadikan pilot project untuk dikembangkan lebih luas,” jelas Muhajir.
Di sisi lain, Camat Bontoala juga menyinggung upaya penertiban kawasan sebagai bagian dari penataan lingkungan dan peningkatan estetika kota.
“Kami telah melakukan penertiban di Jalan Veteran, Jalan Masjid Raya, dan Jalan Lamuru guna menciptakan lingkungan yang lebih tertata, bersih, dan nyaman,” paparnya.
Ia berharap hasil Musrenbang RKPD 2027 tidak hanya berhenti pada tataran usulan, tetapi benar-benar dapat direalisasikan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
“Kami berharap rencana pembangunan ini tidak sekadar menjadi daftar usulan, tetapi benar-benar tepat sasaran dan dikawal bersama demi kesejahteraan masyarakat,” pungkas Andi Ahmad Muhajir.
Diketahui, Kecamatan Bontoala memiliki 12 kelurahan dengan luas wilayah sekitar 2,1 kilometer persegi dan tingkat kepadatan penduduk yang tergolong tinggi.




