
Palu .Nycnews.id.— Dinamika demokrasi pada Muktamar IV Perguruan Prana Sakti Kawasan Timur Indonesia (PPS-KTI) resmi melahirkan perubahan besar dalam struktur kepengurusan organisasi. Melalui proses aklamasi yang berlangsung tertib dan penuh kekeluargaan, para peserta muktamar sepakat menetapkan nakhoda baru perguruan untuk periode 2025–2030.
Dalam keputusan forum tertinggi organisasi tersebut, H. Ust. Sarmada Inaku, S.Ag terpilih sebagai Guru Utama PPS-KTI. Ia akan didampingi dua Wakil Guru Utama, masing-masing Ust. H. Piloto Darmogolad sebagai Wakil I dan Ust. Samin Mokoginta sebagai Wakil II. Penetapan ini sekaligus menandai babak baru penguatan peran Dewan Guru dalam pembinaan kader dan generasi pendekar di Kawasan Timur Indonesia.
Pada struktur pimpinan organisasi, forum muktamar menetapkan H. Nuzuluddin Tiku, SH, M.Si sebagai Ketua Utama PPS-KTI, setelah sebelumnya mengemban amanah sebagai Ketua Umum selama tiga periode. Sementara itu, posisi Ketua Umum PPS-KTI secara aklamasi dipercayakan kepada H. Sofyan Farid Lembah, SH, M.Hum, didampingi Sekretaris Jenderal Dr. Dasmin Lamasiara untuk masa bakti 2025–2030.
Proses demokrasi yang berlangsung terbuka ini dianggap sebagai tonggak penting dalam perjalanan Perguruan Silat Tenaga Dalam PPS-KTI. Muktamar IV menjadi titik awal era konsolidasi organisasi, dengan fokus utama pada penguatan pusat-pusat pelatihan dan padepokan yang tersebar di Kawasan Timur Indonesia.
Dua kampus besar di Palu, yakni Universitas Tadulako dan Universitas Alkhairaat, disebut sebagai basis pertumbuhan padepokan PPS-KTI. Banyak anggota Dewan Guru berprofesi sebagai pengajar di kedua universitas tersebut, sehingga berperan besar dalam melahirkan generasi pendekar akademis dan berkarakter.
Dengan formasi kepemimpinan baru ini, PPS-KTI diharapkan semakin solid, adaptif, dan mampu menjawab tantangan pengembangan perguruan di masa depan.
Selamat kepada seluruh pimpinan baru Perguruan PPS-KTI. Semoga amanah ini menjadi langkah besar menuju kejayaan organisasi dan pelestarian warisan silat tenaga dalam di Kawasan Timur Indonesia.




