
Jurnal NYCNews | Renny Van Gobel
Makassar— Peringatan Hari Guru Nasional ke-80 menjadi momentum penting bagi insan pendidikan untuk kembali menata langkah. Hal ini pula yang diungkapkan Kepala SD Inpres Malengkeri Bertingkat I Makassar, Hj. Rosnaeni, S.Pd., M.Pd., yang menilai bahwa tugas guru di era digital semakin menantang.
Rosnaeni menyebut bahwa guru masa kini bukan hanya dituntut menguasai teknologi, tetapi juga harus menghadapi derasnya pengaruh gadget terhadap perilaku peserta didik.
“Beban guru hari ini jauh lebih berat. Kita tidak hanya memanfaatkan gadget sebagai media belajar, tetapi juga berjuang melawan dampak negatifnya. Guru harus mampu menjadi teladan agar anak tidak hanya pintar secara akademik, tapi juga kuat secara spiritual,” ujarnya, Rabu (26/11/2025).
Ia menambahkan bahwa perkembangan kecerdasan anak tidak hanya dipengaruhi oleh kemampuan otak semata. Lingkungan keluarga, kebiasaan sehari-hari, serta pendidikan karakter berbasis agama memiliki peranan besar dalam membentuk kepribadian anak.
“Anak perlu dilatih dan dibimbing setiap hari. Dengan pembiasaan yang baik, mereka bisa tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter, cerdas, dan tahu mana hal yang bermanfaat,” jelasnya.
Untuk menjawab tantangan dominasi gadget, pihak sekolah berupaya memperkuat kolaborasi dengan orangtua. Pengawasan terhadap penggunaan gawai harus dilakukan secara konsisten, guru mengawasi di sekolah, sementara orangtua melanjutkan di rumah.
Salah satu upaya konkret adalah penerapan Program 7 Gerakan Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (GKAIH) yang mencakup bangun cepat, olahraga, makan bergizi, ibadah, belajar, tidur cepat, dan aktivitas sosial. Program ini dipantau melalui jurnal harian yang dievaluasi setiap bulan.
“Dari jurnal tersebut, banyak orangtua mengaku bersyukur. Anak yang dulunya tidur larut, sekarang bisa tidur lebih awal dan bangun tepat waktu untuk beribadah,” kata Rosnaeni.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyoroti lemahnya kontrol terhadap konten tidak layak di internet. Menurutnya, anak-anak saat ini terlalu mudah terpapar materi yang tidak sesuai usia.
“Kalau pemerintah benar-benar peduli, maka konten cabul itu harus ditutup. Negara lain bisa melakukannya. Mengapa kita harus membiarkan hal yang merusak anak-anak hanya demi keuntungan pihak tertentu?” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa anak belum memiliki kemampuan menyaring informasi, sehingga negara wajib hadir melindungi mereka. Rosnaeni juga menyoroti maraknya komentar negatif dari akun anonim di media sosial yang dapat memperburuk keadaan.
Menutup refleksi di Hari Guru Nasional, Rosnaeni berharap pemerintah, keluarga, dan masyarakat dapat memberikan dukungan nyata kepada para pendidik.
“Hari Guru ke-80 ini semoga menjadi pemicu memperkuat sinergi. Guru tidak bisa bekerja sendirian. Anak-anak adalah tanggung jawab kita bersama,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa kualitas generasi mendatang dibangun melalui kerja kolektif.
“Jika ingin mencetak generasi unggul, maka sekolah, keluarga, dan pemerintah harus berjalan beriringan. Guru hanyalah salah satu pilar. Masa depan anak bangsa ditopang oleh banyak pihak,” tutup Rosnaeni.







