Kisah Ahli IT hingga Pengasuh di Ukraina Angkat Senjata Lawan Rusia

Sejumlah pekerja sipil seperti pemrogram komputer, pekerja teknologi informatika (TI) hingga pekerja harian di Ukraina mengaku siap berperang angkat senjata untuk mempertahankan diri dari invasi Rusia.

Jurnal NYCNews | Kisah Ahli IT di Ukraina

Jakarta, NYCNews.id – Sejumlah pekerja sipil seperti pemrogram komputer, pekerja teknologi informatika (TI) hingga pekerja harian di Ukraina mengaku siap berperang angkat senjata untuk mempertahankan diri dari invasi Rusia.

Peristiwa itu tergambar dari kehidupan masyarakat di Odessa, sebuah Kota Pelabuhan yang terletak strategis di pantai laut Hitam Ukraina.

Bacaan Lainnya

Seorang Chief Marketing Officer (CMO) bernama Zhena memutuskan bergabung dengan angkatan bersenjata Ukraina. Sebelumnya, ia bekerja sebagai eksekutif di perusahaan IT.

Keputusan itu diambil usai dua temannya terbunuh dalam perang. Ia menceritakan, mereka merupakan sukarelawan yang pergi ke Kota Kherson.

“Mereka sama sekali tidak memiliki pengalaman militer. Keduanya programmer,” kata Zhena sebagaimana dikutip NYCNews.id, Sabtu (5/3).

Cerita lain diungkapkan seorang sukarelawan berusia 19 tahun yang sebelumnya bekerja sebagai pengasuh. Dia mengaku pernah menghadapi ancaman dari serangan Rusia di rumahnya.

Kala itu, ia baru berusia 11 tahun dan harus melarikan diri ke Krimea yang diduduki oleh Rusia pada 2014.

“Kami siap mempertahankan tanah kami sampai akhir,” ucap dia.

“Penjajah datang ke rumah saya sebelumnya. Keluarga saya masih di sana. Hanya saya yang bisa pergi karena saya tidak ingin tinggal di Rusia,” tambahnya.

Kecemasan di Odessa pun tak dapat terbendung saat ini bagi keluarga yang ditinggal pergi untuk peperangan. Seorang ibu bernama Nellia Kononova berdoa untuk keselamatan keluarganya yang berada di garis depan.

“Kami tahu bahayanya, kami tahu itu akan datang. Tapi kami tidak tahu kapan itu akan datang,” kata Nellia Kononova melansir NYCNews.

Nellia mengatakan telah meminta kepada anak-anaknya untuk tinggal demi keselamatan. Namun, kata dia, sang anak tetap bertekad untuk membela Ukraina di masa perang saat ini.

“Karena semua orang mencintai tanah air kita,” ucapnya.

“Saya berdoa setiap hari, saya berdoa setiap malam agar mereka tetap hidup,” tandas Nellia mengakhiri cerita.

Sebagai informasi, situasi perang di Ukraina masih terus berlangsung dalam sepekan terakhir. Bahkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir salah satu yang terbesar di negara itu telah dikuasai oleh Tentara Rusia. Bukan hanya itu, Rusia juga mulai mencoba mendekati PLTN kedua terbesar di negara itu.

Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda Rusia akan menghentikan invasi terhadap Ukraina yang pernah menjadi bagian dari negara itu saat masih bergabung dengan Uni Soviet.

About Author

Pos terkait