
Jurnal NYCNews | Renny Van Gobel
Makassar – Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 dimanfaatkan UPT SPF SD Inpres Tamangapa Makassar sebagai momentum strategis untuk memperkuat kolaborasi lintas pihak dalam meningkatkan mutu pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Sekolah, Sumardani, S.Pd., Gr., menegaskan bahwa tema Hardiknas tahun ini, “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua,” bukan sekadar slogan, melainkan panggilan nyata untuk mempererat sinergi antara sekolah, orang tua, dan masyarakat.
“Momentum Hardiknas ini seharusnya menjadi ruang refleksi bersama. Kita tidak bisa lagi berjalan sendiri-sendiri. Pendidikan yang berkualitas hanya bisa terwujud jika semua pihak terlibat aktif dan memiliki pemahaman yang sama,” ujar Sumardani, Kamis (30/4/2026).
Ia mengungkapkan, salah satu tantangan yang masih kerap dihadapi di lapangan adalah terjadinya kesalahpahaman antara pihak sekolah dan orang tua dalam menyikapi persoalan peserta didik. Menurutnya, kondisi tersebut umumnya dipicu oleh kurangnya komunikasi yang terbuka dan berkelanjutan.
“Masih ada orang tua yang belum memahami secara utuh dinamika anaknya di sekolah. Ketika muncul masalah, sekolah sering kali menjadi pihak yang pertama disorot. Padahal, tidak semua persoalan itu bersumber dari lingkungan sekolah,” jelasnya.
Sumardani menekankan bahwa pendidikan sejatinya merupakan tanggung jawab bersama. Guru memiliki keterbatasan dalam melakukan pengawasan selama jam belajar di sekolah, sementara orang tua memegang peranan penting dalam pembinaan karakter anak di lingkungan keluarga.
“Guru hanya membersamai anak dalam waktu tertentu di sekolah. Selebihnya, peran orang tua sangat dominan. Karena itu, kolaborasi ini tidak boleh lemah. Harus ada komunikasi yang intens, saling percaya, dan saling mendukung,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia juga menyoroti pentingnya penerapan pendidikan inklusif sebagai bagian dari upaya pemerataan layanan pendidikan. Di UPT SPF SD Inpres Tamangapa, terdapat sejumlah siswa dengan kebutuhan khusus yang membutuhkan pendekatan pembelajaran berbeda.
“Kami berkomitmen memberikan layanan yang adil bagi semua siswa, termasuk anak-anak inklusi. Tentu dibutuhkan kesabaran ekstra, strategi pembelajaran yang adaptif, serta dukungan dari semua pihak agar mereka dapat berkembang secara optimal,” ungkapnya.
Dalam aspek akademik, sekolah juga telah melaksanakan Tes Kemampuan Akademik (TKA) gelombang II yang berlangsung selama empat hari dengan melibatkan 39 peserta didik. Pelaksanaan dilakukan secara bertahap dalam beberapa sesi untuk menjaga efektivitas.
“Hari pertama kami mulai dengan Bahasa Indonesia, kemudian dilanjutkan Matematika di hari berikutnya. Secara umum, capaian siswa sudah memenuhi standar yang ditetapkan, meskipun masih ada beberapa hal yang perlu ditingkatkan,” paparnya.
Namun demikian, Sumardani tidak menampik adanya sejumlah kendala teknis, terutama terkait keterbatasan sarana pendukung pembelajaran berbasis digital serta gangguan jaringan internet.
“Kami masih kekurangan perangkat seperti Chromebook, sehingga pelaksanaan harus dilakukan secara bergiliran. Ditambah lagi, jaringan internet yang kadang tidak stabil menjadi tantangan tersendiri. Ini tentu menjadi perhatian serius untuk perbaikan ke depan,” ujarnya.
Selain fokus pada peningkatan mutu akademik, UPT SPF SD Inpres Tamangapa juga tengah berupaya meraih predikat Adiwiyata Mandiri. Program ini menuntut pemenuhan 24 indikator yang mencakup berbagai aspek pengelolaan lingkungan sekolah.
“Kami sedang dalam proses menuju Adiwiyata Mandiri. Ini bukan sekadar penilaian administratif, tetapi bagaimana membangun budaya peduli lingkungan yang benar-benar hidup di sekolah,” jelas Sumardani.
Ia menambahkan, keberhasilan program tersebut sangat bergantung pada keterlibatan aktif seluruh warga sekolah, termasuk guru, siswa, orang tua, hingga komite sekolah.
“Program Adiwiyata ini tidak bisa berjalan sendiri. Harus menjadi gerakan bersama. Kesadaran menjaga lingkungan harus tumbuh dari semua pihak, bukan hanya tanggung jawab sekolah,” katanya.
Di akhir pernyataannya, Sumardani menegaskan komitmen sekolah untuk terus menjunjung prinsip keadilan dalam pendidikan tanpa diskriminasi dalam bentuk apa pun.






