
Jurnal NYCNews | Renny Van Gobel
Makassar – Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) gelombang II di UPT SPF SD Inpres Malengkeri Bertingkat 1 Kota Makassar berlangsung lancar dan tertib. Sebanyak 55 siswa kelas VI mengikuti ujian yang digelar selama dua hari, pada 22–23 April 2026, dengan pembagian empat sesi setiap harinya.
Kepala UPT SPF SD Inpres Malengkeri Bertingkat I Makassar, Hj. Rosnaeni, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa pelaksanaan ujian dibagi ke dalam beberapa sesi untuk memastikan proses berjalan efektif dan terorganisir.
“Pada gelombang kedua ini kami membagi ujian menjadi empat sesi dalam sehari, yakni pukul 08.00 untuk sesi pertama, 10.00-sesi ke 2, dan 12.30 sesi 3 serta 14.30 untuk sesi 4. Hari pertama untuk mata pelajaran Matematika dan Numerasi, sedangkan hari kedua Bahasa Indonesia dan Literasi,” ujarnya saat ditemui, Jumat (24/4/2026).
Menurut Rosnaeni, sekolah sengaja memilih mengikuti gelombang kedua agar dapat belajar dari pelaksanaan gelombang pertama, terutama dalam mengantisipasi kendala teknis seperti gangguan jaringan internet.
“Kami melihat pada pelaksanaan awal biasanya masih ada beberapa hambatan teknis, sehingga kami memilih gelombang kedua agar bisa lebih siap dan pelaksanaan berjalan lebih maksimal,” katanya.
Sebagai bentuk kesiapan menghadapi TKA, pihak sekolah telah melakukan berbagai langkah sejak awal semester genap. Para guru kelas VI memberikan tambahan bimbingan belajar tanpa biaya bagi siswa sebanyak dua hingga tiga kali dalam sepekan
.
Pembinaan tersebut difokuskan pada mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika, termasuk pembahasan kisi-kisi serta pola soal yang kemungkinan muncul dalam ujian.
“Kami ingin siswa benar-benar siap, jadi guru memberikan pendampingan ekstra agar mereka lebih percaya diri saat menghadapi ujian,” jelas Rosnaeni.
Meski pelaksanaan berjalan baik, pihak sekolah masih menghadapi tantangan dalam mendampingi beberapa siswa dengan kemampuan belajar yang lebih lambat.
Ia mengungkapkan, terdapat sejumlah siswa yang secara fisik tidak memiliki kendala, namun masih mengalami kesulitan dalam membaca dengan lancar. Hal itu menjadi perhatian khusus agar tidak memengaruhi capaian akademik secara keseluruhan.
“Ada beberapa siswa yang kemampuan membacanya masih perlu pendampingan. Kami berharap sistem penilaian tetap melihat kemampuan masing-masing siswa secara individu,” ungkapnya.
Rosnaeni juga berharap ke depan ada kebijakan yang lebih adaptif bagi siswa dengan kebutuhan belajar yang berbeda, termasuk kemungkinan penyediaan soal yang disesuaikan dengan kemampuan mereka.
Dari sisi teknis, ia memastikan seluruh proses TKA berjalan tanpa hambatan berarti. Sekolah telah melakukan berbagai antisipasi, mulai dari kesiapan perangkat, distribusi kartu ujian, hingga koordinasi intensif dengan siswa.
Namun demikian, kendala nonteknis masih ditemukan, seperti keterlambatan beberapa siswa akibat keterbatasan transportasi dan akses informasi.
“Ada siswa yang harus berjalan kaki ke sekolah, ada juga yang terkendala perangkat komunikasi dan kuota internet. Semua itu kami pantau agar tidak mengganggu pelaksanaan ujian,” tuturnya.
Selain aspek teknis, Rosnaeni juga menyoroti padatnya jadwal ujian yang harus dijalani siswa. Setelah TKA, mereka masih dihadapkan pada ujian semester dan ujian sekolah dalam waktu yang berdekatan. Karena itu, pihak sekolah berencana memberikan waktu istirahat singkat agar kondisi fisik dan mental siswa tetap terjaga.
“Kami ingin anak-anak tetap semangat. Setelah TKA, kami akan memberikan jeda satu hingga dua hari sebelum ujian berikutnya agar mereka bisa kembali fokus,” katanya.
Ia menegaskan bahwa sekolah terus berupaya menjaga keseimbangan antara pencapaian akademik dan kesehatan mental siswa agar mereka tidak merasa terbebani.
Lebih lanjut, Rosnaeni menilai kemampuan literasi menjadi faktor penting dalam menjawab soal-soal TKA yang banyak berbasis bacaan panjang dan analisis.
Untuk mendukung hal tersebut, sekolah rutin menjalankan program literasi melalui kunjungan terjadwal ke perpustakaan serta tugas membaca di setiap kelas.
Meski begitu, ia mengakui tantangan baru muncul seiring perubahan minat baca siswa yang kini lebih tertarik pada buku bergambar dan visual menarik.
“Ini menjadi tantangan bagi guru dan pustakawan untuk menyediakan bahan bacaan yang lebih sesuai dengan minat anak-anak saat ini,” pungkasnya.
Ia berharap pelaksanaan TKA di masa mendatang dapat semakin menyesuaikan kebutuhan siswa sekaligus menjadi langkah nyata dalam meningkatkan mutu pendidikan secara menyeluruh.






