
Jurnal NYCNews | Renny Van Gobel
Makassar – Satuan Reserse Narkoba Polrestabes Makassar kembali menorehkan prestasi besar dalam upaya pemberantasan narkotika. Sebanyak 13,3 kilogram sabu senilai Rp18 miliar berhasil diamankan dari sindikat jaringan internasional yang beroperasi di Kota Makassar.
Pengungkapan kasus ini merupakan hasil operasi sejak Juli hingga Agustus 2025. Dari serangkaian penindakan, polisi berhasil menangkap delapan orang tersangka.
Kapolrestabes Makassar, Kombes Pol Arya Perdana, didampingi Kasat Narkoba AKBP Lulik, membeberkan hasil tersebut dalam konferensi pers di Mapolrestabes Makassar, Jumat (22/8/2025).
“Ini adalah hasil dari lima laporan polisi dengan total barang bukti 13,3 kilogram sabu yang berhasil kami sita,” jelas Arya.
Menurut Arya, sindikat ini menggunakan modus operandi yang semakin canggih. Seluruh pergerakan dikendalikan dari luar negeri melalui aplikasi digital berbasis X/T.
“Kurir tidak pernah bertemu langsung dengan pengendali. Semua instruksi diterima secara online. Barang kemudian ditaruh di lokasi tertentu tanpa tatap muka,” paparnya.
Arya menegaskan, keberhasilan pengungkapan ini bukan hanya soal angka barang bukti, tetapi juga nyawa yang terselamatkan.
“Dengan jumlah sabu ini, setidaknya 78 ribu jiwa terhindar dari bahaya narkoba. Negara juga berpotensi menghemat biaya rehabilitasi hingga Rp624 miliar,” tegasnya.
Dari pengungkapan tersebut, enam orang tersangka lebih dulu diamankan pada awal Juli. Dua tersangka lain menyusul dengan barang bukti terbesar.
Seluruh pelaku dijerat Pasal 114, 112, dan 132 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, dengan ancaman mulai dari enam tahun penjara hingga pidana mati.
Arya mengungkapkan, kasus ini menunjukkan Makassar kini bukan hanya pasar, tetapi juga jalur penting distribusi narkoba internasional ke kawasan Indonesia timur.
“Pengawasan harus semakin diperketat. Kami juga mengajak masyarakat agar tidak ragu melaporkan aktivitas mencurigakan. Perang melawan narkoba adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya polisi,” tegasnya.
Sementara itu, AKBP Lulik menjelaskan bahwa pola kerja sindikat memang dirancang agar bandar besar sulit tersentuh
“Mereka sengaja memakai metode tanpa komunikasi langsung. Kurir yang tertangkap biasanya hanya pion kecil dalam jaringan besar,” ungkapnya.
Ia memastikan pihaknya masih memburu aktor-aktor lain yang diduga terlibat.
“Kami tidak akan berhenti di sini. Masih ada target yang sedang kami kejar, termasuk dugaan keterlibatan sindikat luar negeri” tandas Lulik.







