
Jurnal NYCNews | Renny Van Gobel
Makassar— Kerja keras dan riset panjang akhirnya mengantarkan Milawati Lalla, S.P., M.P. meraih gelar doktor. Ia resmi dikukuhkan setelah menjalani sidang promosi doktor di Gedung Pascasarjana Universitas Hasanuddin (Unhas), Kamis (05/03/2026).
Melalui sidang tersebut, Milawati dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan. Ia berhasil mempertahankan disertasi hasil penelitian selama tiga tahun yang mengkaji pemanfaatan keong mas sebagai pupuk organik cair untuk meningkatkan produktivitas cabai rawit lokal Gorontalo.
Dalam karya ilmiahnya yang berjudul “Produktivitas Cabai Rawit (Capsicum frutescens L.) Lokal Gorontalo dengan Aplikasi Pupuk Organik Cair Keong Emas (Pomacea canaliculata L.) pada Program Produksi Lipat Ganda”, Milawati menyoroti persoalan klasik pertanian, yakni keberadaan keong mas yang selama ini dikenal sebagai hama utama di lahan pertanian.
Berangkat dari pengamatan lapangan selama tiga tahun di Gorontalo, ia menemukan sisi lain dari organisme invasif tersebut. Keong mas yang umumnya dibasmi dan diracun, justru diteliti kandungan nutrisinya untuk kemudian diolah menjadi pupuk organik cair.
“Selama tiga tahun penelitian, saya melihat keong emas ini bukan hanya hama. Berdasarkan berbagai kajian, ternyata banyak potensi yang bisa dimanfaatkan. Dari situ saya kembangkan menjadi pupuk organik cair,” ungkapnya usai sidang promosi.
Pemilihan cabai sebagai objek penelitian bukan tanpa alasan. Menurut Milawati, cabai memiliki posisi strategis baik secara lokal maupun nasional. Di Gorontalo, cabai menjadi kebutuhan pokok masyarakat, sementara secara nasional fluktuasi harganya kerap memicu inflasi.
“Kalau di Gorontalo, setelah nasi itu cabai. Selain itu, lonjakan harga cabai sering berdampak pada inflasi. Jadi bagaimana ketersediaannya bisa kontinu dan produksi meningkat, itu yang ingin saya dorong,” jelasnya.
Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa pupuk organik cair berbahan dasar keong mas memiliki sejumlah keunggulan. Selain ramah lingkungan dan mudah diproduksi, biaya pembuatannya relatif lebih efisien dibandingkan ketergantungan penuh pada pupuk kimia.
“Pupuk kimia memang instan dan cepat diserap tanaman, tetapi penggunaan terus-menerus bisa berdampak pada kondisi tanah. Pupuk organik memang perlu waktu terurai, namun bisa memperbaiki dan menetralisir tanah yang sudah terpapar bahan kimia,” terangnya.
Meski demikian, Milawati mengakui bahwa inovasi tersebut belum sepenuhnya diterapkan oleh petani. Menurutnya, pembuktian langsung di lapangan menjadi kunci agar teknologi ini dapat diterima secara luas.
“Petani biasanya menerima kalau sudah melihat hasil akhirnya. Karena itu perlu uji lapangan dan pendampingan,” katanya.
Terkait peluang komersialisasi, ia menegaskan bahwa proses tersebut tidak bisa dilakukan secara tergesa-gesa. Produk pupuk organik cair harus melalui kajian lanjutan untuk memastikan kandungan, keamanan, dan kelayakannya sebelum dipasarkan.
“Tidak bisa serta-merta kita buat ramuan lalu dijual. Harus dikaji dulu kandungannya, kelayakannya, apakah perlu ditambah bahan lain atau tidak. Ini proses panjang,” tegasnya.
Dalam pemaparannya, Milawati juga menjelaskan karakteristik keong mas yang berbeda dengan keong konsumsi pada umumnya. Keong mas (Pomacea canaliculata L.) dikenal rakus dan bersifat invasif. Ia menyebutkan bahwa dalam satu kali bertelur, keong mas dapat menghasilkan ratusan telur serta mampu bertahan hidup di dalam tanah hingga enam bulan saat kondisi lingkungan ekstrem.
“Dia bukan hanya makan tanaman, tapi juga organisme lain. Karena itu di sawah sangat merugikan petani,” jelasnya.
Sidang promosi doktor tersebut dipimpin oleh tim penguji yang terdiri dari Dr. Ir. Muhammad Taufik Ratule, M.Si; Prof. Dr. Ir. Sylvia Syam, M.S; Prof. Dr. Muh. Jayadi, M.P; Dr. Ir. Katriani Mantja, M.P; serta Dr. Ir. Muh. Riadi, M.P.
Sementara itu, tim promotor dipimpin oleh Prof. Dr. Ir. Elkawakib Syam’un, M.Si sebagai promotor, dengan didampingi co-promotor Prof. Dr. Ir. Fachirah Ulfa, M.P dan Dr. Ifayanti Ridwan Saleh, S.P., M.P.
Melalui risetnya tersebut, Milawati berharap keong mas tidak lagi semata dipandang sebagai hama, melainkan dapat dimanfaatkan sebagai sumber daya alternatif yang berkontribusi pada peningkatan produktivitas cabai serta menjaga stabilitas harga di tengah dinamika pasar.




