oppo_1024
Jurnal NYCNews | Renny Van Gobel
Makassar, 24 Juli 2025 – Di tengah tantangan pengawasan wilayah maritim yang luas dan kompleks, Kanwil Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel) justru menunjukkan kinerja gemilang sekaligus memperkuat komitmennya dalam mendorong UMKM lokal menembus pasar ekspor global.
Melalui gelaran Media Gathering Semester I 2025 yang digelar di BSI UMKM Centre Makassar, Bea Cukai Sulbagsel membuka tabir capaian kinerja, tantangan lapangan, serta kolaborasi strategis yang mereka bangun, termasuk dengan Bank Syariah Indonesia (BSI).
Kepala Kanwil Bea Cukai Sulbagsel, Djaka Kusmartata, menyampaikan bahwa Bea Cukai bukan hanya “penjaga gerbang” lalu lintas barang di perbatasan, tetapi juga mitra aktif pelaku UMKM dalam menembus pasar internasional.
“Kami bantu dari proses awal. Biasanya banyak yang ikut di tahap awal, lalu mengerucut ke pelaku usaha yang serius. Kami dampingi mereka secara gratis agar siap mengekspor, mulai dari aspek legalitas, kemasan, hingga pemenuhan standar internasional,” ujar Djaka.
Kolaborasi dengan BSI menjadi langkah konkret memperluas ekosistem ekspor UMKM. BSI menghadirkan fasilitas UMKM Centre di empat kota besar, termasuk Makassar, sebagai pusat pembinaan usaha mikro, kecil, dan menengah yang siap menembus pasar global.
“Misi kami sejalan dengan Bea Cukai, menaikkan kelas UMKM hingga bisa ekspor. Sinergi ini sangat strategis,” ujar perwakilan BSI Naning Salasatain.
Tak hanya UMKM, sektor industri pun mendapat dukungan langsung dari DJBC Sulbagsel. Seperti yang dilakukan terhadap PT Bukaka Mandiri Sejahtera di Luwu, yang kini mengekspor feronikel dan nickel matte senilai USD 48 juta per tahun, menyerap 2.000 tenaga kerja, dan mencatat investasi total USD 225 juta dalam tiga tahun terakhir.
Djaka juga menyoroti peluang emas dari keberhasilan diplomasi perdagangan Indonesia dengan Amerika Serikat.
“Penurunan tarif impor dari 32% ke 19% untuk produk tertentu memberi peluang besar bagi eksportir Indonesia bersaing dengan negara seperti Vietnam dan Tiongkok. Ini saatnya pelaku usaha memanfaatkan momentum,” ujarnya optimistis.
Selanjutnya, mengenai Kinerja Bea Cukai Sulbagsel periode Semester I 2025, Kepala Seksi Bimbingan Kepatuhan dan Humas Kanwil DJBC Sulbagsel, Cahya Nugraha, menjelaskan realisasi penerimaan negara dari 1 Januari hingga 30 Juni 2025 yang mencapai Rp294,39 miliar atau 59,19 persen dari target tahunan Rp497,34 miliar
“Dari total penerimaan tersebut, Bea Masuk menyumbang Rp214,18 miliar (58,13 persen dari target Rp368,43 miliar), Cukai Rp41,68 miliar (45,58 persen dari target Rp91,45 miliar), dan Bea Keluar Rp38,51 miliar yang sudah melampaui target Rp37,44 miliar atau 102,87 persen,” jelas Cahya
Kinerja positif Bea Keluar menjadi indikator tumbuhnya gairah ekspor dari wilayah ini.
Dalam aspek pengawasan, Bea Cukai Sulbagsel menorehkan 118 penindakan sepanjang semester pertama 2025, dengan nilai barang mencapai Rp29,68 miliar dan potensi penerimaan negara yang berhasil diselamatkan sebesar Rp20,17 miliar.
Barang hasil penindakan:
12,9 juta batang rokok ilegal (nilai Rp19,38 miliar)
5.460 liter MMEA (minuman beralkohol) (nilai Rp4,52 miliar)
19 kasus narkotika dan obat berbahaya
56 perkara diselesaikan secara ultimum remedium dengan denda administratif Rp5,76 miliar
Dengan cakupan wilayah mencakup Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tenggara, serta garis pantai sepanjang 6.585 km, pengawasan oleh 358 personel Bea Cukai Sulbagsel jelas bukan perkara mudah.
Namun, dengan penguatan 14 jenis layanan utama termasuk Tempat Penimbunan Berikat (TPB) dan Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE) Bea Cukai terus menjaga stabilitas ekonomi sekaligus memberdayakan pelaku usaha.
Media gathering ini menjadi bukti nyata bahwa Bea Cukai Sulbagsel tak hanya berperan dalam mencegah kebocoran negara dari aktivitas ilegal, tapi juga sebagai motor penggerak UMKM untuk melangkah lebih jauh: dari lokal menuju global.
Kolaborasi lintas sektor, pengawasan yang adaptif, dan keberpihakan pada UMKM menjadi fondasi kokoh untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan timur Indonesia.





