
Jurnal NYCNews | Renny Van Gobel
MAKASSAR – Dr. Ir. Yonggris Lao, M.M., kembali memimpin Persatuan Umat Buddha Indonesia (PERMABUDHI) Sulawesi Selatan untuk periode 2026–2031. Memasuki periode ketiga sekaligus terakhirnya, Yonggris menegaskan komitmen memperkuat kolaborasi antar-majelis, memperluas kemitraan, dan menyiapkan kader pemimpin untuk melanjutkan estafet kepemimpinan organisasi.
Yonggris resmi dilantik bersama jajaran pengurus PERMABUDHI Sulawesi Selatan masa bakti 2026–2031 dalam rangkaian penutupan Musyawarah Daerah (Musda) III PERMABUDHI Sulsel di Hotel Horison Makassar, Sabtu (24/10/2026) malam.
Pelantikan tersebut dihadiri Ketua Umum PERMABUDHI yang juga anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Republik Indonesia, Prof. Dr. Philip Kuntjoro Widjaja, BBA., MBA., serta Pembimas Buddha Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulawesi Selatan, Sumarjo, S.Ag., M.M., yang mewakili Kepala Kanwil Kemenag Sulsel. Sejumlah tokoh agama Buddha, pimpinan majelis, perwakilan yayasan, dan pengurus organisasi turut hadir.
Dalam sambutannya, Yonggris menyebut kepercayaan untuk kembali memimpin PERMABUDHI Sulsel merupakan amanah besar yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Ia menegaskan, periode 2026–2031 menjadi kesempatan terakhirnya memimpin organisasi tersebut sesuai ketentuan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART).

“Ini adalah periode terakhir untuk saya karena dalam anggaran dasar rumah tangga PERMABUDHI hanya maksimal tiga periode,” ujarnya.
Ia mengatakan, salah satu tugas utama yang menjadi prioritasnya adalah mempersiapkan kader-kader yang mampu meneruskan kepemimpinan organisasi setelah masa jabatannya berakhir. Menurut Yonggris, menyiapkan pemimpin tidak cukup hanya dengan menunjuk seseorang untuk menduduki jabatan. Proses tersebut membutuhkan pembentukan karakter, integritas, serta kemampuan membangun hubungan dan jejaring yang luas.
“Yang kita harus siapkan ini orang, bukan barang. Kalau barang gampang, tapi ini orang yang harus kita bentuk karakternya, lalu kita bentuk bagaimana dia bisa mempunyai hubungan yang luas keluar,” katanya.
Selain kaderisasi, Yonggris menetapkan penguatan kolaborasi antar-majelis sebagai salah satu agenda utama kepengurusan baru. Ia berharap seluruh majelis anggota dapat meningkatkan keterlibatan dalam berbagai kegiatan bersama sehingga persatuan dan keharmonisan di lingkungan PERMABUDHI semakin kuat.
Ia juga menekankan pentingnya memperluas kemitraan dengan berbagai pihak, mulai dari instansi pemerintah, dunia usaha, hingga organisasi lintas agama dan elemen masyarakat lainnya.
Dalam rangkaian Musda III tersebut, PERMABUDHI Sulsel juga menandatangani kerja sama dengan tiga mitra, yakni BPR Hasamitra, RS. Primaya, dan Prodia. Kemitraan tersebut diharapkan membuka lebih banyak peluang kolaborasi yang memberikan manfaat bagi umat dan masyarakat luas.
“Kita sangat berharap sekali semakin banyak sahabat-sahabat atau instansi-instansi yang mau bekerja sama dengan kita,” ujarnya.
Yonggris menjelaskan, program kerja kepengurusan periode 2026–2031 akan diarahkan pada kegiatan yang memberikan manfaat nyata, terutama di bidang kepedulian lingkungan dan kemanusiaan.
Menurut dia, kedua bidang tersebut menjadi ruang kolaborasi yang dapat menyatukan seluruh majelis di bawah PERMABUDHI, meskipun memiliki latar belakang dan tradisi keagamaan yang beragam. Program yang dapat dikembangkan antara lain kegiatan sosial, pelayanan kesehatan, sunatan, serta pelestarian lingkungan.
Ia menegaskan, kepengurusan mendatang juga akan lebih selektif dalam menentukan kegiatan dengan mempertimbangkan manfaat dan dampaknya bagi masyarakat. Yonggris mengungkapkan, selama periode sebelumnya, PERMABUDHI Sulsel telah melaksanakan sekitar 129 kegiatan yang diselenggarakan sendiri dalam kurun empat tahun. Selain itu, pengurus juga aktif menghadiri berbagai undangan kegiatan eksternal.
Dengan pengalaman tersebut, ia berharap program kerja ke depan dapat disusun lebih terarah agar tenaga dan sumber daya organisasi digunakan secara efektif.
“Kita akan lebih banyak menyeleksi kegiatan-kegiatan yang memang bermanfaat, punya dampak yang besar,” katanya.
Yonggris pun mengajak seluruh pengurus dan majelis anggota untuk bekerja bersama, menjaga etika organisasi, serta meningkatkan dukungan terhadap setiap program yang dijalankan.
Ia menegaskan, keberhasilan PERMABUDHI tidak hanya ditentukan oleh ketua dan pengurus, tetapi juga oleh dukungan seluruh majelis dan umat yang berada di bawah naungannya.
Sementara itu, Ketua Umum PERMABUDHI, Prof. Dr. Philip Kuntjoro Widjaja, mengapresiasi terpilihnya kembali Yonggris Lao. Ia menilai kepemimpinan dan kinerja Yonggris selama dua periode sebelumnya menjadi modal penting untuk membawa PERMABUDHI Sulsel semakin berkembang.

Namun, Philip mengingatkan bahwa periode ketiga harus dimanfaatkan untuk mematangkan kader-kader muda yang akan menjadi penerus organisasi.
Ia menekankan pentingnya memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk terlibat langsung dalam berbagai kegiatan, termasuk berinteraksi dengan pemerintah, organisasi kemasyarakatan, serta kelompok lintas agama.
Menurut Philip, pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam membangun kapasitas dan memperluas wawasan calon pemimpin masa depan. Ia juga menyebut PERMABUDHI Sulsel sebagai salah satu pengurus daerah yang memiliki rekam jejak keberhasilan dalam menjalankan organisasi di tingkat nasional.
Philip berharap kepengurusan baru dapat mempertahankan capaian tersebut sekaligus mempersiapkan regenerasi secara berkelanjutan.
Pada kesempatan yang sama, Pembimas Buddha Kanwil Kemenag Sulsel, Sumarjo, yang membacakan sambutan Kepala Kanwil Kemenag Sulsel, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan Musda III dan pelantikan pengurus PERMABUDHI Sulsel.

Ia menegaskan, Musda tidak sekadar menjadi forum pemilihan pemimpin, tetapi juga ruang evaluasi, konsolidasi, dan penyusunan strategi untuk memperkuat peran organisasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Kemenag berharap PERMABUDHI Sulsel terus menjadi mitra strategis dalam memperkuat moderasi beragama, membangun dialog lintas agama, serta menjaga kerukunan dan persatuan masyarakat.
Selain itu, Sumarjo menyoroti pentingnya ekoteologi, yakni kesadaran bahwa menjaga kelestarian alam merupakan bagian dari tanggung jawab spiritual dan moral manusia. Ia mendorong PERMABUDHI berperan aktif dalam gerakan kepedulian lingkungan melalui penghijauan, pengelolaan sampah, serta pembentukan kesadaran ekologis di tengah masyarakat.
Upaya tersebut sejalan dengan gerakan Barisan Sipakainge yang didorong Kemenag Sulsel untuk mewujudkan lingkungan yang bersih, asri, rindang, indah, sehat, aman, dan nyaman. Melalui kepengurusan baru ini, PERMABUDHI Sulsel diharapkan tidak hanya memperkuat pelayanan kepada umat, tetapi juga memperluas kontribusi sosial dan lingkungan.
Dengan semangat kolaborasi, kaderisasi, dan pengabdian, PERMABUDHI Sulsel diharapkan semakin solid serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat Sulawesi Selatan selama lima tahun mendatang.


