
Jurnal NYCNews | Renny Van Gobel
Makassar – Upaya mencetak sumber daya manusia Indonesia yang berdaya saing global terus diperkuat melalui kolaborasi antara pemerintah dan lembaga pelatihan vokasi. Salah satunya diwujudkan melalui pelepasan 74 peserta Program Magang ke Jepang Tahun 2026 yang digelar di Aula Syekh Yusuf, Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Makassar, Selasa (14/7/2026).
Program hasil sinergi BBPVP Makassar bersama LPK Yayasan SHIN Indonesia tersebut menjadi jembatan bagi generasi muda untuk memperoleh pengalaman kerja, meningkatkan kompetensi, sekaligus menyerap budaya kerja Jepang yang dikenal disiplin, produktif, dan berorientasi pada kualitas. Melalui program ini, para peserta diharapkan kembali ke Tanah Air dengan membawa pengalaman, keterampilan, serta etos kerja yang mampu mendukung pembangunan daerah dan meningkatkan daya saing bangsa.
Pelepasan peserta dilakukan oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Sulawesi Selatan, Dr. Jayadi Nas, S.Sos., M.Si., yang mewakili Gubernur Sulawesi Selatan. Turut hadir Kepala BBPVP Makassar Nasrul Ilmullah, Ketua LPK Yayasan SHIN Indonesia yang diwakili oleh Syarif Hidayat, Penanggung Jawab LPK Yayasan SHIN Indonesia Wilayah Timur Alimin, perwakilan pemerintah kabupaten/kota, dunia usaha, perbankan, serta para orang tua peserta.

Dalam sambutannya, Jayadi Nas menyampaikan permohonan maaf Gubernur Sulawesi Selatan yang berhalangan hadir karena agenda pemerintahan. Meski demikian, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan memberikan apresiasi kepada BBPVP Makassar, LPK Yayasan SHIN Indonesia, pemerintah daerah, dunia usaha, dan seluruh mitra yang telah membuka peluang kerja internasional bagi generasi muda Sulawesi Selatan maupun daerah lainnya.
Ia menegaskan bahwa para peserta magang bukan sekadar calon tenaga kerja, melainkan duta daerah, duta bangsa, sekaligus penyumbang devisa negara. Karena itu, mereka diminta menjaga nama baik keluarga, daerah, dan Indonesia selama menjalani program di Jepang.
“Anda semua adalah devisa negara. Kami berharap Anda menjadi pahlawan bangsa, menjaga harkat dan martabat Indonesia di luar negeri. Jagalah nama baik keluarga, daerah, dan negara karena Anda adalah duta bangsa,” ujar Jayadi.
Jayadi juga mengingatkan pentingnya menjunjung tinggi nilai budaya siri’ na pacce sebagai bekal menghadapi kehidupan di negeri orang. Menurutnya, nilai siri’ menjadi simbol harga diri dan semangat pantang menyerah, sedangkan pacce mengajarkan solidaritas, kepedulian, dan kebersamaan.
Selain itu, ia menekankan pentingnya membangun trust atau kepercayaan melalui kejujuran, disiplin, etos kerja, dan integritas.
“Modal paling mahal di dunia kerja adalah membangun kepercayaan. Kalau Anda mampu menjaga kejujuran, disiplin, dan etos kerja, bukan hanya nama Anda yang dipercaya, tetapi nama Indonesia juga akan semakin dihormati,” katanya.
Ia turut mengingatkan peserta agar senantiasa menjaga hubungan dengan keluarga, tidak melupakan ibadah, mampu beradaptasi dengan budaya Jepang tanpa meninggalkan jati diri sebagai bangsa Indonesia, serta menghindari keberangkatan melalui jalur yang tidak resmi.
Sementara itu, Kepala BBPVP Makassar, Nasrul Ilmullah, mengatakan keberangkatan 74 peserta menjadi bukti transformasi pelatihan vokasi yang kini tidak lagi berorientasi pada banyaknya peserta yang dilatih, melainkan pada peningkatan kesempatan kerja dan kesejahteraan masyarakat.
Menurutnya, BBPVP Makassar terus memperkuat sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dunia industri, dan lembaga pelatihan agar pelatihan yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan pasar kerja nasional maupun internasional.
“Keberhasilan pelatihan bukan lagi diukur dari berapa banyak orang yang dilatih, tetapi berapa banyak yang bekerja, meningkat pendapatannya, dan mampu mengubah kehidupan keluarganya. Itulah orientasi outcome yang sedang kami bangun,” ujar Nasrul.
Nasrul menjelaskan, BBPVP Makassar juga mengembangkan pelatihan berbasis kebutuhan industri melalui skema tailor made training, selain program reguler di berbagai kejuruan. Menurutnya, kolaborasi menjadi kunci dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan memperluas kesempatan kerja.
Ia berpesan agar seluruh peserta memanfaatkan kesempatan magang untuk mempelajari budaya kerja Jepang yang dikenal disiplin, tepat waktu, inovatif, dan bertanggung jawab.
“Belajarlah sebanyak mungkin. Hormati aturan yang berlaku, jaga etika, dan tunjukkan bahwa tenaga kerja Indonesia adalah pekerja yang disiplin, jujur, bertanggung jawab, serta cepat belajar. Ketika kembali ke Indonesia, bawalah pengalaman dan budaya kerja yang bisa membangun daerah dan bangsa,” tuturnya.

Di sisi lain, Syarif Hidayat mewakili Ketua LPK Yayasan SHIN Indonesia, mengatakan tingginya kebutuhan tenaga kerja di Jepang menjadi peluang besar bagi generasi muda Indonesia untuk mengembangkan kompetensi sekaligus membangun masa depan. Saat ini, peserta magang ditempatkan di sektor manufaktur, konstruksi, pengolahan makanan dan minuman, serta peternakan.
Syarif menjelaskan seluruh peserta telah melalui proses seleksi yang ketat, mulai dari tes akademik, psikotes, pemeriksaan kesehatan, hingga mengikuti pelatihan intensif selama sekitar empat bulan yang mencakup pembelajaran bahasa Jepang, keterampilan kerja, dan pemahaman budaya sebelum menjalani wawancara dengan perusahaan di Jepang.
“Bekal utama yang kami siapkan ada tiga, yaitu kemampuan bahasa Jepang, keterampilan, dan pembekalan budaya. Ketiga aspek ini menjadi fondasi utama agar peserta mampu bekerja secara profesional sekaligus beradaptasi dengan budaya kerja di Jepang,” jelas Syarif.
Ia menambahkan, peserta yang dinyatakan lulus akan menandatangani perjanjian kerja dengan masa kontrak selama tiga tahun sebelum diberangkatkan ke Jepang.

Sementara itu ditempat yang sama, Penanggung Jawab LPK Yayasan SHIN Indonesia Wilayah Timur, Alimin, mengungkapkan bahwa tingginya permintaan tenaga kerja dari Jepang belum sepenuhnya diimbangi jumlah peminat di Indonesia. Karena itu, pihaknya berharap dukungan pemerintah dalam memperluas sosialisasi agar semakin banyak generasi muda memanfaatkan peluang tersebut melalui jalur resmi.
“Kami berharap semakin banyak masyarakat mengetahui peluang ini. Jepang masih membutuhkan banyak tenaga kerja, sehingga kolaborasi dengan pemerintah sangat penting agar informasi dapat menjangkau lebih banyak calon peserta,” kata Alimin.
Menurut Alimin, perlindungan terhadap peserta juga menjadi komitmen LPK Yayasan SHIN Indonesia. Selain memiliki kantor di Indonesia, yayasan juga memiliki kantor di Tokyo dan Nagoya yang didukung konsultan untuk melakukan pendampingan, pengawasan, serta monitoring terhadap peserta selama menjalani program magang.
“Setiap peserta mendapatkan pendampingan secara berkelanjutan, termasuk pemantauan kondisi kerja, perlindungan asuransi, keselamatan kerja, hingga pemenuhan hak-hak mereka selama berada di Jepang,” ujarnya.
Program tahun ini memberangkatkan 74 peserta, melanjutkan rekam jejak LPK Yayasan SHIN Indonesia yang selama kurang lebih sembilan tahun telah mengirim sekitar 1.500 peserta magang ke Jepang. Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan berharap para peserta dapat kembali ke Indonesia dengan membawa pengalaman, kompetensi, budaya kerja, dan karakter disiplin yang mampu mendorong peningkatan produktivitas serta memperkuat daya saing sumber daya manusia Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.





