
Jurnal NYCNews | Renny Van Gobel
Makassar, Sulsel – Aksi Geng Motor kembali mencoreng ketenangan malam di Kota Makassar. Sabtu malam (19/07/2025), sekelompok remaja terlibat bentrokan brutal yang menyebabkan lima korban luka parah akibat sabetan senjata tajam dan panah.
Polrestabes Makassar bergerak cepat. Dalam waktu kurang dari 48 jam, tim Jatanras berhasil mengamankan 23 pelaku, sebagian besar masih berusia belasan tahun. Ironisnya, 10 di antaranya merupakan pelaku utama, termasuk tiga orang yang diduga sebagai eksekutor pembacokan.
Dalam konferensi pers yang digelar Senin (21/07/2025), Kapolrestabes Makassar Kombes Pol Arya Perdana, S.I.K. membeberkan kronologi bentrokan yang terjadi di tiga titik sekaligus: Jalan Dangko, Jalan Cendrawasih, dan Jalan AP Pettarani.
“Para korban mengalami luka serius. Ada yang terkena sabetan senjata tajam di kepala, ada juga yang tertancap anak panah. Ini kejadian yang sangat membahayakan,” ujar Kombes Arya.
Lebih memilukan, para pelaku diketahui mengatur tawuran melalui perjanjian “COD” istilah yang biasanya digunakan untuk transaksi jual beli, kini disalahgunakan untuk janjian bentrok.
Polisi menyita dua unit motor matic, beberapa bilah parang, serta satu set busur panah lengkap dengan anak panah dari tangan para pelaku.
Meski banyak yang masih di bawah umur, para pelaku tetap dijerat hukum tegas. Pasal 170 KUHP tentang pengeroyokan disiapkan untuk para pelaku pembacokan, dengan ancaman hingga 9 tahun penjara. Sedangkan pelaku yang membawa senjata tajam dikenakan UU Darurat No. 12 Tahun 1951, yang ancamannya mencapai 12 tahun penjara.
“Ini menjadi alarm serius bagi kita semua. Remaja kita mudah terprovokasi, bahkan sampai membawa senjata tajam seolah hal biasa,” tegas Arya.
Kombes Arya menegaskan bahwa jajarannya tidak akan memberi ruang bagi pelaku kejahatan jalanan. Polrestabes Makassar akan terus meningkatkan patroli, pengawasan, dan sinergi dengan masyarakat.
“Kami minta dukungan semua pihak, terutama orang tua dan sekolah, untuk memperkuat pengawasan terhadap anak-anak. Jangan biarkan mereka terjerumus dalam kekerasan jalanan,” imbaunya.
Tawuran ini menjadi refleksi penting akan krisis sosial di kalangan remaja perkotaan. Di tengah gencarnya pembangunan dan modernisasi, pembinaan karakter dan kontrol sosial menjadi kunci untuk mencegah generasi muda terseret ke dalam lingkaran kekerasan.







