
Jurnal NYCNews | Renny Van Gobel
MAKASSAR – Polda Sulawesi Selatan menyiapkan langkah pembinaan khusus bagi warga yang terlibat perkelahian kelompok di Kota Makassar. Melalui program pendidikan dan pelatihan (diklat) bertajuk “Sadar Diri”, para pelaku yang diamankan akan menjalani pembinaan selama tujuh hari di Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Sulsel.
Program yang disiapkan Kapolda Sulsel Irjen Pol. Dr. M. Awal Chairuddin, S.I.K., M.H., ini menjadi salah satu upaya untuk memutus mata rantai perkelahian kelompok yang berulang di Makassar. Pendekatan yang dilakukan tidak hanya menitikberatkan pada penindakan, tetapi juga pembentukan karakter, pengendalian emosi, dan perubahan perilaku.
Semangat program tersebut terangkum dalam slogan “Tahu-Tahu Diklat, Tahu-Tahu Sadar Diri”. Ungkapan ini menjadi pesan bahwa pembinaan diharapkan mampu membuka kesadaran para peserta agar memahami konsekuensi dari tindakan mereka dan tidak kembali terjerumus dalam aksi kekerasan.
Sasaran program ini tidak terbatas pada pelaku perkelahian antarkelompok. Pembinaan juga direncanakan menyasar kelompok bermotor yang meresahkan masyarakat serta pihak-pihak yang terlibat dalam aktivitas berisiko, yang berpotensi membahayakan keselamatan orang lain dan mengganggu keamanan serta ketertiban masyarakat (kamtibmas).
Selama tujuh hari, para peserta akan diarahkan untuk mengevaluasi perilaku dan memahami pentingnya disiplin, tanggung jawab, serta kemampuan mengendalikan diri. Kebiasaan mudah terpancing emosi, terprovokasi, hingga mengikuti ajakan melakukan kekerasan menjadi bagian dari persoalan yang perlu dibenahi melalui pendekatan pembinaan
Lebih dari sekadar memberikan efek jera, Diklat “Sadar Diri” diharapkan menjadi momentum perubahan bagi para peserta. Mereka diharapkan mampu menyadari bahwa perkelahian kelompok bukan hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga membawa dampak bagi keluarga, masyarakat, serta masa depan mereka.
Melalui program ini, Polda Sulsel berupaya menghadirkan penanganan yang tegas sekaligus humanis. Penegakan aturan tetap menjadi bagian penting, namun upaya mencegah pengulangan perbuatan melalui pembinaan juga dinilai penting agar persoalan perkelahian kelompok tidak terus berulang.
Pendekatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran generasi muda untuk menyelesaikan persoalan secara bijak, tanpa kekerasan, serta tidak mudah terseret provokasi yang dapat memicu konflik.
Polda Sulsel berharap para peserta dapat kembali ke lingkungan masing-masing dengan pola pikir yang lebih positif, sikap yang lebih dewasa, dan kemampuan mengendalikan emosi. Dengan demikian, mereka tidak hanya berhenti melakukan kekerasan selama masa pembinaan, tetapi juga mampu menjaga perilaku setelah kembali ke tengah masyarakat.
Melalui semangat “Polisi Bersama Masyarakat” dan Commander Wish Kapolda Sulsel, “EWAKO – Empati, Waspada, Adil, Kolaboratif”, Polda Sulsel terus mendorong langkah-langkah nyata untuk menciptakan situasi kamtibmas yang aman dan kondusif.
Pada akhirnya, Diklat “Sadar Diri” diharapkan tidak sekadar menjadi program pembinaan selama tujuh hari, tetapi juga menjadi titik balik bagi para peserta untuk meninggalkan budaya kekerasan dan mengambil peran positif dalam menjaga keamanan Kota Makassar.
Sebab, tujuan akhirnya bukan sekadar membuat pelaku berhenti berkelahi, melainkan menumbuhkan kesadaran agar mereka memilih jalan yang lebih baik dan tidak kembali mengulangi perbuatannya.


