Muslihat Azis Syamsuddin di Pusaran Suap Penyidik KPK

Mantan Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin dituntut empat tahun penjara terkait kasus dugaan suap

Jakarta, NYCNews.id – Jaksa menuntut agar hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta menjatuhi hukuman 4 tahun 2 bulan penjara dan denda Rp250 juta subsidair 6 bulan kurungan terhadap Azis Syamsuddin. Ditambah pencabutan hak politik selama 5 tahun.
Azis Syamsuddin merupakan petinggi Partai Golkar yang juga Wakil Ketua DPR ketika kasus itu diusut KPK. Tak ayal, kasus tersebut langsung jadi perhatian publik.

Jaksa menilai Azis terbukti menyuap mantan penyidik KPK, AKP Stepanus Robin Pattuju agar kasus korupsi Dana Alokasi Khusus (DAK) APBN-P Kabupaten Lampung Tengah Tahun Anggaran 2017 dihentikan.

Kasus terungkap tim KPK yang terdiri dari Novel Baswedan, Ambarita Damanik, dan Rizka Anungnata sedang mengusut dugaan suap terkait lelang jabatan di Pemkot Tanjungbalai, Sumatera Utara. Penanganan kasus ini membuka kotak pandora banyak kejahatan lain.

Bacaan Lainnya

Tim menemukan bukti komunikasi antara Wali Kota Tanjungbalai, M. Syahrial dengan AKP Stepanus Robin Pattuju melalui aplikasi Signal.

Usai ditelusuri lebih jauh, Robin bersama pengacara Maskur Husain mengurus lima perkara yang ditangani KPK. Satu di antaranya terkait dengan Azis Syamsuddin.

Pada 8 Oktober 2019, KPK membuka penyelidikan kasus dugaan korupsi Dana Alokasi Khusus (DAK) APBN-P Kabupaten Lampung Tengah Tahun Anggaran 2017. Surat Perintah Penyelidikan (Sprinlidik) kasus tersebut diperbarui pada 17 Februari 2020.

Azis bergerak cepat. Pada kurun waktu 2020 ia berupaya meminta bantuan penyidik KPK bernama AKP Stepanus Robin Pattuju.

Azis meminta bantuan Robin agar penyelidikan DAK Lampung Tengah dihentikan. Robin dijanjikan Rp4 miliar yang diberikan oleh Azis dan Aliza masing-masing Rp2 miliar.

Robin menyanggupi permintaan tersebut. Ia menggandeng pengacara bernama Maskur Husain untuk mengurus DAK Lampung Tengah.

Uang Rp4 miliar yang dijanjikan tidak terpenuhi seluruhnya. Yang telah berikan sebesar Rp3.099.887.000 dan US$36.000 setara Rp536.688.000. Totalnya sekitar Rp3,64 miliar. Uang diberikan sepanjang Agustus 2020 hingga Maret 2021 melalui transfer dan tunai.

Informasi penetapan Azis sebagai tersangka kemudian terdengar ‘nyaring’ di kalangan awak media meski KPK belum mengumumkan secara resmi. Sejumlah media sudah menerbitkan pemberitaan mengenai hal tersebut pada Kamis, 23 September 2021.

Keesokan harinya, yaitu Jumat, 24 September 2021, Azis dipanggil KPK untuk diperiksa.

Namun, melalui sepucuk surat, Azis meminta pemeriksaan ditunda hingga 4 Oktober 2021 dengan dalih sedang menjalani isolasi mandiri usai menjalin kontak erat dengan pasien Covid-19. KPK tidak percaya.

KPK tidak percaya ketika Azis minta pemeriksaan ditunda karena itu tidak beralasan secara hukum. KPK lantas menerjunkan tim untuk menjemput paksa Azis.

“Dari analisis kami, setelah diskusi di tingkat struktural, ini sesuatu yang janggal karena dia tidak melampirkan PCR atau antigen, dia hanya mengatakan kontak erat, siapa orangnya tidak dijelaskan dalam surat,” ujar Plt. Juru Bicara Penindakan KPK, Ali Fikri pada 25 September 2021.

Tim penindakan yang dipimpin oleh Direktur Penyidikan Setyo Budiyanto (saat ini menjabat Kapolda NTT) dan Kepala Satgas Alfred Simanjuntak langsung melaksanakan perintah pimpinan KPK untuk menjemput paksa Azis.

Tim bergerak ke rumah Azis di Pondok Pinang, Jakarta Selatan pada Jumat, 24 September 2021, kala petang menjelang malam. Petugas kesehatan khusus penanganan Covid-19 diajak serta.

“Masuk ke rumahnya disambut dengan baik oleh keluarganya, tidak ada halangan, tidak ada kendala, kemudian dites antigen enggak reaktif, kemudian disilakan mandi dan sebagainya lalu dibawa ke kantor KPK,” tutur Ali.

Pada pukul 19.53 WIB, Azis tiba di Gedung Merah Putih KPK dengan pengawalan ketat petugas KPK. Tak mengeluarkan sepatah kata apa pun ketika sampai di halaman gedung.

Politikus Partai Golkar itu menjalani pemeriksaan sekitar 4 jam. Pada Sabtu, 25 September 2021, sekitar pukul 00.36 WIB, Azis resmi mengenakan rompi oranye khas tahanan KPK dengan tangan diborgol.

Ia dihadirkan langsung di ruang konferensi pers dan diumumkan oleh Ketua KPK, Firli Bahuri, sebagai tersangka kasus dugaan suap terhadap penyidik KPK, AKP Stepanus Robin Pattuju.

Pada 24 September-21 November 2021, Azis menjalani masa penahanan di Rutan Polres Metro Jakarta Selatan. Kemudian pada 22 November 2021 hingga dilimpahkan ke pengadilan, Azis menjalani masa penahanan di Rutan Klas I Jakarta Timur cabang KPK.

Terdakwa kasus dugaan suap terkait pengurusan atau penanganan sejumlah kasus di KPK Stepanus Robin Pattuju (kiri) berswafoto dengan kerabatnya saat akan menjalani sidang dengan agenda pembacaan putusan oleh majelis hakim di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta, Rabu (12/1/2022). Dalam persidangan tersebut majelis hakim memutuskan mantan penyidik KPK Stepanus Robin Pattuju divonis 11 tahun penjara ditambah denda Rp500 juta subsider 6 bulan kurungan ditambah kewajiban membayar uang pengganti senilai Rp2,3 miliar dan Maskur Husain selaku advokat divonis 9 tahun penjara ditambah denda Rp500 juta subsider 6 bulan kurungan ditambah kewajiban membayar uang pengganti senilai  Rp8,7 miliar dan 36 ribu dolar AS. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/YU

Selama menjalani proses persidangan hingga tahap penuntutan (6 Desember 2021-24 Januari 2022), Azis tidak pernah mengakui perbuatannya. Sikap itu menjadi pertimbangan jaksa dalam menjatuhkan tuntutan pidana 4 tahun 2 bulan penjara.

Azis hanya sekali mengaku. memberikan uang kepada AKP Stepanus Robin Pattuju sebesar Rp210 juta. Itu pun sebagai pinjaman. Uang itu, klaim Azis, untuk membantu Robin yang terpapar Covid-19.

Dalam persidangan, Azis beberapa kali menantang saksi untuk melakukan sumpah mubahalah. Saksi pertama yaitu mantan anggota Polri bernama Agus Susanto.

Pada Senin, 24 Januari 2022, jaksa KPK menuntut Azis dengan pidana 4 tahun 2 bulan penjara dan denda Rp250 juta subsidair 6 bulan kurungan. Jaksa juga meminta hakim agar mencabut hak politik Azis selama 5 tahun terhitung sejak terdakwa selesai menjalani masa pidana pokok.

About Author

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *