Merasakan Suasana Masa Majapahit di Desa Wisata Bejijong Mojokerto

Jurnal NYCNews | Radhitya Ichsan Riwanto

NYCNEWS.IDJakarta – Wisata sejarah bisa menjadi pilihan liburan cukup menarik bersama keluarga. Salah satunya dengan berwisata ke salah satu wilayah yang konon menjadi Ibu Kota Kerajaan Majapahit di Desa Bejijong, Kabupaten Mojokerto, Provinsi Jawa Timur.

Selain mendapatkan wisata edukasi, para pengunjung juga bisa merasakan langsung suasana khas kerajaan yang guyup dan syahdu. Hal inilah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke desa wisata tersebut.

Bagai peribahasa sekali kayuh dua tiga pulau terlampaui, kiranya dapat menggambarkan bagaimana pengalaman berwisata di Kampung Majapahit. Dengan mengusung konsep desa wisata one village multi product, setiap wisatawan akan mendapatkan paket wisata berbasis seni budaya, sejarah, alam, dan industri kreatif sekaligus.

“Potensi yang kami jual memang dari masyarakat. Mulai dari home stay, pengarajin batik dan cor kuningan, ada juga Situs Siti Inggil yang di dalamnya terdapat petilasan Raden Wijaya, raja pertama di Kerajaan Majapahit, Candi Brahu, dan patung Buddha Tidur terbesar ke-3 di dunia,” kata Pradana Tera, Kepala Desa Bejijong Pradana Tera kepada Liputan6.com, Selasa, 23 Agustus 2022.

Namun, dalam merintis wisata berbasis masyarakat ini, ternyata telah melewati proses panjang untuk bisa menggerakkan roda perekonomian masyarakat desa setempat.

“Desa wisata yang terinisasi sejak 2006 ini, baru bisa terealisasi tahun lalu, 2021. Di tahun tersebut kami mulai mengembangkan berbagai paket wisata yang akhirnya bisa mengantarkan kita menjadi 50 Desa Wisata terbaik Se-Indonesia dan mendapatkan terbaik ke 3 kategori CleanlinessHealthySafety, dan Environment Sustainability,” tambah Pradana.

Desa yang konon terletak di pusat Ibu Kota Majapahit ini, kini telah banyak menarik wisatawan dari berbagai penjuru negeri.

 

2 dari 4 halaman

Menilik Petilasan Pendiri Kerajaan Majapahit

Tak jauh dari Balai Desa Bejijong, wisatawan bisa langsung melihat Siti Inggil atau dalam bahasa Indonesia berarti tanah tinggi. Situs ini banyak menjadi jujukan ritual bagi para pengunjungnya.

Hal ini dikarenakan di bangunan utama yang berukuran 15×15 meter ini terdapat 5 makam (petilasan) yakni Raden Wijaya, Garwo Padmi Ghayatri, garwo Selir Dhoro Pethak, Garwo Selir Dhoro Jinggo, serta Abdi Kinasih Kaki Regel.

Pitoyo (56), salah satu pengunjung yang telah selesai melaksanakan ‘ritualnya’ mengaku rutin ziarah di Situs Siti Inggil ini.

“Ya ini dalam rangka melaksanakan bulan suro, ke sini untuk menemui leluhur dengan tujuan minta restu untuk keselamatan atau kesehatan,” katanya yang datang bersama lima orang lainnya.

Tidak hanya itu, seusai berziarah kelima makam di bangunan utama, Pitoyo dan rekannya juga menyempatkan untuk melakukan ritual di makam pengawal Raja Raden Wiajaya, yaitu Sapu Jagad dan Sapu Angin yang terletak di sisi kiri sebelum bangunan utama.

Situs yang buka 24 jam ini dipenuhi dengan pohon rindang dan terdapat pohon besar yang berdiri tegak di bangunan utama. Dipercaya usianya sudah ribuan tahun.

Menurut informasi, pohon besar tersebut menjadi payung hidup bagi petilasan raja pendiri Kerajaan Majapahit tersebut. Suasana yang sejuk dengan semilir angin sawah membuat situs bersejarah ini selalu nyaman untuk dikunjungi.

 

3 dari 4 halaman

Patung Buddha Tidur Terbesar ke-3 Dunia

Setelah berziarah, para pengunjung akan dibawa menggunakan kereta berkuda untuk menikmati pesona patung Buddha Tidur yang menduduki peringkat ke-3 terbesar di dunia setelah Thailand dan Nepal dan terbesar di Indonesia.

Patung yang berukuran panjang 22 meter, lebar 6 meter, dan tingginya 4,5 meter ini terletak di dalam Maha Vihara Mojopahit. Tiket yang perlu dibayarkan sangat terjangkau, hanya dengan Rp 5.000 untuk dewasa dan Rp 3.000 untuk anak anak, pengunjung sudah bisa menikmati kemegahan patung berwarna emas yang menggambarkan wafatnya Buddha Gautama ini.

“Nyaman banget di sini, saya bareng rombongan gowes dari Sidoarjo ya untuk melihat ini. Pertama kali saya ke sini ternyata bagus dan besar banget,” tutur Cipto salah satu anggota komunitas Gowes asal Sidoarjo.

Tidak hanya itu, dalam waktu-waktu tertentu, pengunjung juga dihibur dengan pertunjukan live musik gamelan jawa yang berasal dari warga desa setempat.

“Ini sebagai salah satu wujud uri-uri budaya yang kita lakukan untuk menjaga dan melestarikan kebudayaan kita,” kata Pradana.

 

4 dari 4 halaman

Bermalam di Rumah Majapahit

Setelah berkeliling di berbagai destinasi wisata, kini saatnya melepas lelah dengan beristirahat. Jika biasanya menginap di kamar hotel berbintang, kali ini Desa Wisata Bejijong menyuguhkan home stay Rumah Majapahit yang memiliki interior rumah seperti di masa-masa kerajaan.

“Yang perlu dirasakan para wisatawan adalah bisa merasakan atmosfer Majapahit dan bagaimana keramahtamahan masyarakat kami kepada wisatawan. Seluruh masyarakat siap menyambut para wisatawan, karena kini masyarakat sudah benar-benar sadar terhahadap desa wisata,” tutur Pradana.

Kini, terdapat 50 home stay milik warga yang siap huni. Untuk menempati penginapan di sana harga dibanderol mulai dari Rp 180 ribu. Namun, masih ada paket lain yang bisa dipilih wisatawan jika hendak berkunjung ke sana.

Tidak sedikit jajaran kementerian dan kepala daerah turut ingin merasakan suasana kemajapahitan di Desa Bejijong ini.

“Kita menerima kunjungan rata-rata dari luar kota, mulai dari Pemerintah Lumajang, Gresik, Surabaya, Jakarta bahkan wisatawan mancanegara telah merasakan menginap di sini,” pungkasnya.

Selain berbagai wahana wisata di atas, para pengunjung juga akan diajak untuk melihat atraksi pembuatan cor kuningan dan belajar membatik khas Majapahit.

Sebagai oleh-oleh khas Bejijong, para wisatwan bisa membeli kaos oblong Majapahit atau telur asin asap khas Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, kabupaten Mojokerto. Informasi lengkap terkait paket-paket wisata di sana, dapat dikunjungi di instagram resmi @bejijongku.

About Author

Pos terkait