
Jurnal NYCNews | Renny Van Gobel
Makassar, 5 Mei 2026 — Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 menjadi momentum refleksi bagi dunia pendidikan untuk terus berbenah. Mengusung tema “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”, berbagai pihak diharapkan berperan aktif dalam menciptakan pendidikan yang inklusif dan berkualitas.
Kepala UPT SPF SDI Malengkeri Bertingkat I, Hj. Rosnaeni, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa makna “partisipasi semesta” tidak hanya terbatas pada lingkungan sekolah, tetapi juga melibatkan keluarga dan masyarakat luas. Menurutnya, proses pendidikan tidak bisa berdiri sendiri di ruang kelas.
“Pembelajaran di sekolah bukan satu-satunya tempat anak mendapatkan pendidikan bermutu. Lingkungan keluarga, masyarakat, hingga bimbingan belajar dan pendidikan keagamaan juga memiliki peran besar dalam membentuk karakter anak,” ujarnya, Selasa (5/5/2026).
Ia menekankan bahwa indikator pendidikan bermutu tidak semata diukur dari capaian akademik atau peringkat. Lebih dari itu, perubahan sikap dan pembentukan karakter menjadi tolok ukur utama keberhasilan pendidikan.
“Pendidikan bermutu adalah ketika ada perubahan ke arah yang lebih baik. Karakter anak jauh lebih penting dibanding sekadar nilai,” tambahnya.
Dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan di sekolahnya, Rosnaeni menyebut ada beberapa prioritas utama yang menjadi fokus. Pertama, kualitas sumber daya manusia (SDM) guru sebagai ujung tombak pembelajaran. Kedua, ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai untuk menunjang proses belajar. Ketiga, pelaksanaan pembelajaran yang efektif, serta keempat, program-program sekolah yang berorientasi pada peningkatan kualitas pendidikan.
Namun demikian, ia mengakui masih ada sejumlah tantangan dalam mewujudkan pendidikan yang merata dan berkualitas. Salah satunya adalah memastikan tidak adanya diskriminasi dalam proses pembelajaran.
“Semua siswa berhak mendapatkan pendidikan yang sama, sesuai dengan bakat dan minat mereka. Guru tidak boleh pilih kasih,” tegasnya.
Tantangan lain yang dihadapi adalah rendahnya minat siswa terhadap sekolah yang tidak sesuai dengan keinginan mereka, serta penggunaan teknologi yang belum optimal di kalangan tenaga pendidik. Ia menilai, pemanfaatan teknologi secara bijak sangat penting dalam mendukung pembelajaran di era digital.
“Guru harus mampu memanfaatkan teknologi sebagai media pembelajaran. Jika tidak, kita akan tertinggal. Di sisi lain, penggunaan media sosial oleh siswa juga perlu diawasi agar tidak mengganggu proses belajar,” jelasnya.
Rosnaeni berharap pendidikan di Indonesia dapat memberikan makna yang mendalam, baik bagi tenaga pendidik maupun peserta didik.
“Saya berharap pendidikan ini benar-benar bermakna, menjadi bekal bagi anak-anak untuk meraih cita-cita, serta membentuk mereka menjadi pribadi yang terampil, kreatif, mandiri, dan tidak bergantung pada hal-hal negatif,” pungkasnya.





