oppo_1024
Jurnal NYCNews | Renny Van Gobel
Makassar — Suasana kebersamaan mewarnai kegiatan halal bihalal yang digelar Kerukunan Masyarakat Sinjai (KMS) di Swiss-Belinn Panakkukang Makassar, Selasa (21/4/2026). Mengangkat tema “Merajut Silaturahmi, Merawat Persaudaraan”, kegiatan ini menjadi titik temu warga asal Sinjai yang menetap di Makassar dari berbagai latar generasi.
Pertemuan tersebut turut dihadiri sejumlah tokoh penting, mulai dari unsur pemerintah daerah hingga pimpinan organisasi. Di antaranya Bupati Sinjai Dra. Hj. Ratnawati Arif, M.Si., Ketua Umum DPP KMS Dr. Syahrir Cakkari, S.H., M.H., serta jajaran dewan pembina, pakar, dan penasehat yang selama ini aktif dalam wadah kekeluargaan warga Sinjai.
Bupati Sinjai Hj. Ratnawati Arif dalam pemaparannya menggambarkan peran warga Sinjai di Makassar sebagai kekuatan sosial yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Menurutnya, keberadaan mereka tidak hanya membawa identitas kedaerahan, tetapi juga ikut memberi warna dalam kehidupan kota.
“Orang Sinjai di Makassar ini hampir ada di semua wilayah. Mereka bukan hanya menjaga identitas, tapi juga berkontribusi sebagai warga kota,” ujar Ratnawati.
Ia juga menyoroti dinamika sosial masyarakat Sinjai yang kini semakin beragam, terutama dengan adanya ikatan keluarga lintas daerah seperti Takalar, Bulukumba, Jeneponto hingga Maros. Kondisi tersebut dinilai memperluas jejaring sekaligus memperkokoh persaudaraan.
“Walaupun sudah berbaur dengan berbagai daerah, identitas Sinjai tetap menjadi perekat. Bahkan Makassar sebagai kota perantauan menjadi ruang yang mempersatukan,” kata Ratnawati.
Pada kesempatan itu, Ratnawati turut mengulas perkembangan Kabupaten Sinjai yang dinilai menunjukkan capaian menggembirakan, baik dari sisi pertumbuhan ekonomi maupun peningkatan kualitas hidup masyarakat.
“Ini bukan kerja bupati semata, tapi hasil kerja bersama. Pemerintah dan masyarakat berjalan beriringan untuk mencapai target pembangunan,” tegas Ratnawati.
Upaya pemerintah daerah dalam membuka akses wilayah juga terus digenjot. Kini, jalur transportasi antar daerah semakin berkembang dan tidak lagi bertumpu pada satu akses utama seperti sebelumnya.
“Dulu Sinjai hanya punya Jalan Persatuan Raya. Sekarang sudah ada konektivitas ke Bone, Bulukumba hingga Bantaeng. Bahkan kita sudah memiliki jalan nasional baru,” jelas Bupati Sinjai.
Selain infrastruktur, sejumlah program pemerintah pusat mulai menyentuh masyarakat Sinjai, termasuk pembangunan kawasan nelayan dan fasilitas pendidikan berbasis sekolah rakyat.
“Program pusat sudah masuk ke Sinjai. Ini peluang besar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tambah Ratnawati.
Menutup arahannya, ia mengingatkan pentingnya peran warga perantauan dalam mendukung kemajuan daerah, sekaligus menjaga kedekatan emosional dengan tanah kelahiran.
“Kami butuh dukungan semua pihak. Di mana pun berada, orang Sinjai harus tetap ingat kampung halaman,” pungkas Hj. Ratnawati.
Di sisi lain, Ketua Umum DPP KMS Syahrir Cakkari menilai kegiatan ini sebagai ruang konsolidasi sosial bagi warga Sinjai di Makassar, sekaligus mempererat hubungan lintas generasi dalam satu wadah organisasi.
“Ini ajang mempertemukan seluruh elemen, dari tokoh hingga generasi muda. Kita ingin menjaga kebersamaan,” ujarnya.
Syahrir menegaskan, ke depan KMS akan memperluas peran melalui program-program yang lebih menyentuh masyarakat, termasuk kegiatan keagamaan seperti pengiriman dai ke wilayah terpencil di Sinjai.
“Kami ingin hadir tidak hanya dalam kegiatan seremonial, tapi juga program nyata di tengah masyarakat,” katanya.
Dalam momen tersebut, ia juga mengumumkan perubahan nama organisasi dari Himpunan Masyarakat Sinjai (HIMAS) menjadi Kerukunan Masyarakat Sinjai (KMS) sebagai bagian dari penyesuaian administratif.
“Perubahan ini untuk memenuhi syarat administrasi. Sekarang KMS sudah resmi berbadan hukum,” jelasnya.
Kegiatan berlangsung dalam nuansa kekeluargaan yang kental, mencerminkan eratnya hubungan antarwarga Sinjai di perantauan. Diharapkan, momentum ini mampu memperkuat solidaritas sekaligus mendorong kontribusi nyata bagi pembangunan daerah asal.





