
Jurnal NYCNews | Renny Van Gobel
MAKASSAR – Di tengah keberagaman masyarakat Indonesia, seni memiliki kekuatan untuk mempertemukan berbagai perbedaan. Musik, misalnya, tidak hanya menjadi medium ekspresi dan hiburan, tetapi juga dapat menyampaikan pesan kemanusiaan, membangun dialog, serta merawat persaudaraan lintas agama.
Gagasan tersebut mengemuka dalam Konferensi Musik Indonesia (KMI) 2026 yang dilaksanakan di Hotel Claro Makassar, Jumat (30/10/2026). Mengangkat tema “Menuju Festival Lintas Iman dan Internasionalisasi Musik Religi”, forum tersebut mendorong pemanfaatan seni dan musik sebagai ruang perjumpaan antarumat beragama sekaligus sarana memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada dunia.
Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, mengatakan seni dan kebudayaan memiliki peran strategis dalam membangun kehidupan masyarakat yang damai, inklusif, dan saling menghargai.
Menurut Nasaruddin, seni merupakan bahasa kalbu yang mampu menyampaikan kerinduan manusia kepada Tuhan. Melalui ekspresi seni dan spiritualitas, manusia dapat menemukan persamaan yang melampaui sekat identitas agama maupun budaya.
“Melalui seni dan spiritualitas, manusia dapat menemukan ruang persamaan yang melampaui sekat-sekat identitas,” kata Nasaruddin.
Ia menilai, para seniman dan pelaku industri kreatif perlu mendapatkan ruang, apresiasi, serta dukungan berkelanjutan. Mereka tidak semestinya hanya dipandang sebagai pengisi kegiatan hiburan, tetapi juga sebagai mitra strategis dalam menjaga kebudayaan dan memperkuat kerukunan umat beragama.
“Para seniman harus ditempatkan sebagai mitra strategis dalam merawat kebudayaan dan memperkuat kehidupan beragama yang harmonis,” ujarnya.
Nasaruddin juga mendorong penyelenggaraan Festival Lintas Iman sebagai wadah kolaborasi bagi seniman dari berbagai latar belakang keagamaan. Menurut dia, apresiasi terhadap ekspresi seni dari tradisi agama lain tidak berarti harus mengubah keyakinan ataupun mencampuradukkan ajaran agama.
“Kita dapat mengapresiasi ekspresi seni dari tradisi agama lain tanpa harus menukar akidah atau mencampuradukkan ajaran,” tuturnya.
Meski demikian, kolaborasi tersebut harus tetap memperhatikan batas antara ritual keagamaan yang bersifat sakral dan ekspresi budaya. Keterlibatan tokoh agama serta seniman berpengalaman dinilai penting, terutama dalam proses penciptaan dan kurasi karya agar kolaborasi berjalan secara bijaksana.
Lebih jauh, Nasaruddin melihat kekayaan seni dan musik spiritual Indonesia memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai instrumen diplomasi budaya dan perdamaian internasional.
Melalui Festival Lintas Iman, Indonesia diharapkan tidak hanya menampilkan keragaman tradisi musik religi, tetapi juga menghadirkan ruang dialog dan pertukaran budaya yang memperkuat persaudaraan kemanusiaan.
“Seni tidak semestinya hanya dinikmati, tetapi juga harus mampu melahirkan kebaikan,” tegasnya.
Pandangan serupa disampaikan Ketua DPD Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi) Sulawesi Selatan, Dr. Ir. Yonggris Lao, M.M. Ia menilai musik memiliki kemampuan untuk mempertemukan masyarakat tanpa menjadikan perbedaan keyakinan sebagai penghalang.
Menurut Yonggris, keberagaman bukanlah sesuatu yang harus diseragamkan. Sebaliknya, perbedaan dapat menghasilkan harmoni apabila setiap kelompok mampu menemukan nilai-nilai universal yang menyatukan.
“Salah satu gagasan utama yang mengemuka adalah pentingnya membangun kesamaan nada dasar dalam keberagaman,” ujar Yonggris.
Ia menjelaskan, musik tidak hanya berfungsi memperkuat identitas keagamaan masing-masing kelompok, tetapi juga dapat menjadi sarana membangun identitas bersama sebagai bangsa.
Karena itu, Yonggris mendorong lahirnya karya musik kolaboratif yang membawa pesan universal dan dapat diterima masyarakat luas. Nilai cinta kasih, kebajikan, perdamaian, dan kemanusiaan dinilai menjadi titik temu yang dapat menyatukan para musisi dari berbagai latar belakang agama.
Dukungan terhadap pengembangan musik lintas iman juga disuarakan perwakilan musisi Buddhis, Ardi Wong. Ia berharap organisasi-organisasi Buddhis memberikan perhatian lebih besar terhadap perkembangan seniman dan pelaku seni budaya Buddhis.
“Kami berharap, khususnya teman-teman musisi Buddhis, bisa mendapatkan dukungan dari organisasi-organisasi Buddhis,” ungkap Ardi.
Menurut Ardi, seni memiliki potensi lebih luas daripada sekadar menghasilkan pertunjukan yang menghibur. Karya musik dapat menjadi media untuk menyampaikan nilai-nilai kebajikan dan ajaran kemanusiaan.
“Kami bergerak di bidang kesenian, tetapi bagaimana kesenian ini bisa kami gunakan sebagai media untuk menyebarkan kebaikan dan kebajikan, seperti yang diajarkan Guru Agung kita, Sang Buddha,” tuturnya.
Ardi mengungkapkan, kolaborasi musik lintas agama tersebut telah memasuki tahun kedua. Pada penyelenggaraan tahun ini, musisi Buddhis mulai mengambil bagian dalam ruang kolaborasi yang sebelumnya telah berjalan.
Ia berharap keterlibatan tersebut terus berkembang dengan mengikutsertakan musisi dari agama lain, termasuk Katolik, Konghucu, dan Hindu. Semakin luas keterlibatan komunitas keagamaan, semakin besar pula peluang menghadirkan representasi keberagaman Indonesia melalui satu panggung musik.
Kolaborasi itu bahkan berpeluang diperluas ke tingkat internasional, termasuk melalui festival yang direncanakan berlangsung di Masjid Istiqlal, Jakarta.
“Ini sudah memasuki tahun kedua. Tahun ini teman-teman musisi Buddhis mulai bergabung dalam kolaborasi lintas agama,” jelasnya.
Ardi menambahkan, dukungan tokoh dan organisasi keagamaan sangat dibutuhkan agar para musisi memiliki ruang yang lebih luas untuk mengembangkan kreativitas. Dengan demikian, karya yang dihasilkan tidak hanya memperkaya khazanah seni budaya, tetapi juga membawa pesan perdamaian kepada masyarakat.
Di Sulawesi Selatan, gagasan tersebut diharapkan menjadi pintu masuk bagi penguatan kerja sama seni lintas agama. Permabudhi Sulsel dinilai memiliki peluang mengambil peran sebagai penghubung antara komunitas Buddhis dan para pelaku seni dari berbagai latar belakang keagamaan.
Kolaborasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada diskusi atau forum seminar, tetapi berlanjut menjadi karya musik bersama yang dapat dinikmati masyarakat luas.
Pada akhirnya, musik menawarkan ruang perjumpaan yang tidak selalu dapat dibangun melalui dialog formal. Melalui nada dan irama, perbedaan dapat hadir berdampingan tanpa harus kehilangan identitas masing-masing.
Semangat itulah yang ingin dibangun melalui Festival Lintas Iman: menjadikan keberagaman bukan sebagai sekat pemisah, melainkan kekuatan untuk merawat persaudaraan, memperkuat toleransi, dan meneguhkan Bhinneka Tunggal Ika.


